Tampilkan postingan dengan label Artikel Ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Ilmiah. Tampilkan semua postingan

3.21.2012

Sel Punca, Harapan Terapi Masa Depan




Terapi sel punca terus mengalami kemajuan. Sifat ”sel awal” yang mampu berubah bentuk dan berfungsi menjadi organ tubuh apa pun menjadikan sel punca sebagai harapan pengobatan pada masa depan.

Sel punca (stem cell) dalam tubuh bisa diibaratkan suku cadang untuk mengganti sel-sel yang secara alami mati atau yang rusak karena penyakit. Masalahnya, laju kerusakan acap kali tidak secepat perbaikan yang dilakukan sel punca.

Kini, percepatan perbaikan bisa dilakukan di luar tubuh. Caranya, mengambil sel punca dari sumsum tulang belakang, sel darah tepi, atau tali pusar, kemudian dibiakkan dan diinjeksikan lagi ke organ yang membutuhkan perbaikan.

Yuyus Kusnadi, peneliti utama dari Stem Cell and Cancer Institute (SCI), Jakarta, mengatakan, umumnya sel punca diambil dari sumsum tulang belakang karena memiliki lebih banyak sel punca.

Menurut Yuyus, tidak mudah mengisolasi sel punca. ”Hanya ada satu sel punca dalam 10.000 sel sumsum tulang belakang. Sedangkan dalam darah, hanya ada satu sel punca di antara 100.000 sel. Isolasi sel punca dipastikan dengan fluorescence activated cell sorting (FACS) atau flowcytometer.

Peneliti lain SCI, Indra Bachtiar, menjelaskan, FACS merupakan alat pendeteksi karakteristik suatu sel berdasarkan pendaran sinar fluoresens.

FACS melihat tanda penomoran tertentu pada sel punca, yang dikenal sebagai cluster of differentiation. Misalnya, CD105 dan CD73 untuk penanda sel punca mesenkimal (mampu berdiferensiasi menjadi sel penyusun jaringan ikat, seperti osteosit, kondrosit, dan adiposit), sel punca hematopoietik CD34, sel punca saraf CD133, dan sel punca jantung Sca-1.

Dalam laboratorium, sel punca yang diisolasi kemudian dibiakkan dalam larutan agar memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi organ tubuh tertentu.

Dipandu larutan

Jika ingin sel punca berdiferensiasi menjadi (jaringan) hematopoietik, digunakan iscove modified eagle’s medium (IMDM). Kalau ingin menjadi jaringan mesenkimal, diberi larutan alfa-modified eagle’s medium (alfa-MEM) dan dulbeco modified eagle’s medium (DMEM).

Diferensiasi menjadi sel jantung dapat dipacu dengan 5-azacytidine dan vascular endothelial growth factor (VEGF). Larutan itu dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi mirip lingkungan di sekitar organ yang diinginkan.

Untuk radang sendi, kelainan tulang rawan, dan patah tulang yang sulit tersambung, sel punca diambil dari sumsum tulang pasien sendiri. Untuk mengetahui apakah sel punca berdiferensiasi (berubah) menjadi tulang rawan, pada medium perlu ditambahkan faktor penumbuh agar berkembang menjadi tulang rawan, seperti transforming growth factor (TGF-b).

Cairan berisi sel punca kemudian diinjeksikan ke tulang rawan pasien. Secara alami, sel-sel ini menyatu dengan tulang rawan yang ada.

Berbagai penyakit

Sejak tahun 2009, SCI menangani dua pengulturan sel punca pasien radang sendi. Dua pasien itu mengalami kemajuan dan berangsur normal. Dalam laporan penggunaan sel punca pada Bagian Ortopedi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RS Dr Soetomo, Surabaya, penyembuhan lebih cepat tiga bulan dibandingkan dengan pengobatan biasa.

Yang paling banyak menggunakan terapi adalah pasien gangguan jantung, lebih dari 30 pasien, mayoritas berusia 50-70 tahun.

Di Indonesia, terapi sel punca pada jantung pertama kali dilakukan oleh tim gabungan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Kanker Dharmais, dan RS Medistra, Jakarta. Studi pendahuluan mulai September 2007 dan mengikutsertakan enam penderita serangan jantung akut.

Tiga bulan setelah terapi, sebagian sel jantung keenam pasien yang semula mati dapat hidup lagi, memperoleh aliran darah, dan berfungsi normal.

Menurut dokter ahli bedah plastik Yefta Moenadjat, terapi sel punca juga diterapkan pada penderita luka bakar.

Terapi sel punca dalam jangka pendek mampu mempersingkat inflamasi dan memperbaiki fase pembentukan jaringan, menutup jaringan yang luka, serta memfasilitasi proses epitelialisasi, yaitu memoles jaringan penyembuhan yang telah terbentuk menjadi lebih matang dan fungsional.

Namun, dari berbagai referensi, kata Yefta, terapi ini tidak sempurna. Bekas luka, misalnya, masih terlihat seperti kulit kering yang tidak ditumbuhi rambut.

Pada masa depan, kemungkinan masih terbentang luas. Masih banyak penyakit yang berpotensi diterapi menggunakan sel punca, seperti diabetes, stroke, dan autisme.

Oleh : ICHWAN SUSANTO

Stem Cell dan Dunia Research

A. Penelitian Stem Cell

Pada awal tahun 1980-an, para ilmuan belajar bagaimana membuat Embrionic stem cell dari tikus dan menumbuhkannya di laboratorium. Pada tahun 1998, mereka pertama kali mereproduksi Embrionic stem cell manusia di laboratorium.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada artikel‘Mengenal Stem Cell’, Embrionic stem cell merupakan Stem cell yang didapat dari embrio yang sudah dibuahi. Namun bagaimana caranya para peneliti mendapatkan embrio manusia..??
Embrio bisa didapatkan melalui reproduksi (pencampuran sperma dan sel telur), atau via cloning. Para peneliti umumnya mendapatkan embrio manusia dari klinik Fertility. Terkadang, pasangan yang mencoba untuk mempunyai bayi membuat beberapa embrio dan tidak semuanya di implant ke dalam rahim calon ibu. Biasanya mereka menyumbangkan sisa embrio untuk kegiatan ilmiah seperti penelitian.
Selain dari klinik Fertility, cara lain untuk membuat embrio adalah melalui teknik yang di sebut Therapeutic cloning. Teknik ini menggabungkan sel dari pasien yang membutuhkan terapi stem cell dengan sel telur dari seorang donor.
Inti sel (nucleus) dihilangkan dari sel telur dan digantikan dengan nucleus dari sel pasien. Telur ini distimulasi agar membelah secara kimia atau elektrik, dan embrio yang dihasilkan membawa material genetic dari si pasien, hal ini akan mengurangi resiko penolakan oleh tubuh pasien ketika stem cell diimplant.

B. Replikasi Stem Cells di Laboratorium

Embrio yang sudah berkembang selama 3-5 hari disebut blastocyst. Blastocyst merupakan kumpulan 100 sel atau lebih. Sel bagian dalam dari Blastocyst inilah yang dinamakan Stem cell. Mereka akan berkembang menjadi semua jenis sel, jaringan dan organ dalam tubuh.
Para ilmuan mengambil stem cell dari blastocyst dan meng-kultur mereka (menumbuhkan di dalam cairan kaya nutrisi) di dalam petridish. Setelah sel mereplikasi beberapa kali dan menjadi terlalu banyak untuk tempat kultur-nya, mereka dipindahkan ke beberapa petridish lain. Hanya dalam waktu beberapa bulan, beberapa stem cell bisa menjadi jutaan jumlahnya. Embrionic stem cell yang sudah di kultur selama beberapa bulan tanpa differensiasi di sebut stem cell line. Cell line dapat dibekukan dan di bagi antar laboratorium.
Adult Stem cell jauh lebih sulit bagi scienctist karena mereka lebih sukar di ekstrak dan dikulturkan ketimbang Embrionic stem cell. Adult Stem cell tidak hanya sulit ditemukan di jaringan orang dewasa, namun juga sulit direplikasi di laboratorium.
Meskipun embryonic stem cell dapat ditumbuhkan secara efektif di laboratorium, ia masih cukup sulit untuk di control. Scientist masih terus berusaha membuat mereka tumbuh menjadi jenis jaringan tertentu sesuai yang dibutuhkan.

C. Kesulitan Pada Penelitian Stem Cell

Idealnya, scientist akan berhasil menumbuhkan sel dalam laboratorium dan menginjeksikannya ke tubuh pasien, untuk kemudian menggantikan jaringan rusak yang terserang penyakit. Tapi pada kenyataannya Stem cell masih belum bisa digunakan untuk mengobati penyakit. Ini karena scientist belum memahami bagaimana mengarahkan stem cell untuk berkembang menjadi jaringan/sel tertentu (misalnya otak, hati, dan lain-lain), serta untuk mengontrol perubahan/differensiasi dari stem cell setelah diinjeksikan ke dalam tubuh seseorang.
Sebagai contoh adalah diabetes. Untuk mengobati diabetes, scientist tidak hanya membuat sell pembuat insulin saja, tapi juga mereka harus mampu mengatur bagaimana sel-sel tersebut benar-benar memproduksi insulin sekali setelah dimasukkan ke dalam tubuh.
Di alam, differensiasi stem cell di picu oleh pemicu internal dan eksternal. Pemicu internal adalah gen dalam setiap sel, yang akan memandu bagaimana sell seharusnya berfungsi. Pemicu eksternal adalah bahan kimia yang dilepaskan oleh sell lain yang dapat mengubah cara kerja stem cell tersebut.
Scientist sangat paham bahwa inisiasi oleh gen merupakan tahapan krusial bagi proses differensiasi, maka mereka melakukan eksperimen dengan memasukkan gen tertentu ke dalam kultur lalu menggunakannya untuk mencoba membuat stem cell terdifferensiasi menjadi sell tertentu. Namun semacam signal diperlukan untuk men-trigger stem cell agar terdifferensiasi. Dan sampai saat ini Scientist masih terus mencari signal tersebut.
Selain itu masih ada masalah lain yang harus dihadapi dalam penggunaan stem cell. Salah satu adalah penolakan. Jika pasien di injeksi dengan stem cell dari embrio donator, system immunenya akan melihat sell tersebut sebagai invader asing dan akan menyerangnya.

3.20.2012

Sel Punca, Obat Baru AIDS dan Kanker

PENGETAHUAN tentang sel punca atau stem cell telah lama dikenal di dunia biologi sel. Namun baru akhir dekade ini, penggunaan sel punca diketahui dapat digunakan untuk terapi berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan. 

Dalam penelitian, sel punca telah terbukti berhasil mengobati penyakit diabetes mellitus, jantung, alzheimer, parkinson, bahkan AIDS dan kanker.

Menurut Prof Sultana MH Faradz MD PhD dari Pusat Penelitian Biomedis Fakultas Kedokteran Undip, pada dasarnya, setiap organ dan jaringan tubuh dibentuk oleh sel-sel tertentu yang berasal dari sel punca. Dalam kehidupan kita, sel punca berperan dalam regenerasi organ dan jaringan yang rusak atau hilang setiap hari.

”Sel ini memiliki ciri mampu membelah diri secara terus menerus, spesialisasi pembelahannya belum terarah, dan dengan induksi yang spesifik. Sel punca, dapat membelah diri menjadi sel yang diinginkan seperti sel jantung, sel syaraf, sel otot, dan sebagainya.” jelasnya.

Boleh dibilang, sel punca adalah sumber dari semua sel di dalam individu, tidak terdiferensiasi, dan bisa memperbanyak diri. 

Salah satu tipe sel punca adalah sel punca embrionik yang diisolasi dari bagian inner cell mass blastosis, tahap paling awal perkembangan manusia yaitu lima hari setelah pembuahan. Sel punca yang digambarkan sebagai pluripotent, mampu jadi semua jenis sel.

Sementara itu, sel punca dewasa adalah sel tunas yang diisolasi dari jaringan dewasa seperti sumsum tulang atau darah dan bisa memperbanyak diri, tetapi kemampuan diferensiasinya terbatas untuk menjadi jenis sel tertentu. 

Karena bisa menjadi beragam sel tubuh, sel punca bisa menyediakan jaringan untuk mengganti sel-sel yang rusak dalam terapi diabetes, jantung, dan penyakit lain.

Namun, sel punca dewasa dianggap kurang optimal hasilnya daripada sel punca embrionik dalam hal tipe jaringan yang bisa dibentuk. 

”Akan tetapi, riset sel punca embrionik dihadapkan pada masalah etika karena embrio harus dihancurkan bila hendak diambil sel puncanya. Ini berarti menghilangkan satu kehidupan yang dimulai sejak pembuahan,” katanya.

Masih Eksperimen

Mengingat riwayat riset dan pemanfaatan sel punca yang belum terlalu lama, para peneliti Indonesia terus bereksperimen. Penelitian sel punca di Indonesia juga berkembang pesat yang ditandai munculnya sentra-sentra riset baik dasar maupun terapan antara lain di Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Diponegoro, Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Medistra, serta Institut Sel Punca dan Kanker.

Di Indonesia, terapi sel punca baru dilakukan segelintir pasien yang menjalani uji klinis. 

Sejumlah dokter bahkan sudah mampu menerapkan pengobatan sel punca untuk sejumlah penyakit dalam jumlah yang relatif kecil. Terapi sel punca di Indonesia sudah diterapkan RS Cipto Mangunkusumo kepada pasien infark jantung. 

Selain keamanan metode pengobatan, kesiapan sumber daya manusia (SDM), dana yang didukung Departemen Kesehatan, dan gedung, menurutnya, perlu panduan metode pengobatan dengan sel punca, termasuk peraturan etika yang akan menjadi rambu-rambu dalam pelaksanaan sel punca.

Penawaran secara luas terapi sel punca kepada masyarakat tidak bisa sembarangan karena harus dilihat dulu efek jangka panjangnya, sehingga terapi itu belum dilepas ke pasar. 

Dalam uji klinis, terapi tersebut diawasi secara ketat guna melihat efektivitas dan keamanannya. Penelitian penggunaan sel punca sendiri terus digalakkan di Indonesia;

Beberapa kemungkinan yang masih terus diawasi untuk terapi sel punca alogenik (penggunaan sel punca dari donor) ialah penerimaan tubuh terhadap sel punca donor. 

Kondisi lain yang diteliti ialah kemungkinan pencemaran virus atau bakteri sehingga harus ada kemampuan menyaring agar tidak ada risiko penyakit lain di kemudian hari. 

Penggunaan sel punca pasien sendiri (autologus) juga masih harus diawasi atas kemungkinan timbulnya kanker. 

Oleh : Fani Ayudea

4.05.2008

Hadapi Flu Burung dengan Perilaku Hidup Bersih Sehat

Awal Januari ini, penyakit flu burung atau avian influenza berjangkit kembali. Ini ditandai dengan kemunculan kasus flu burung di Jakarta Utara, di mana seorang pemuda yang dinyatakan positif flu burung meninggal dunia. Hasil pemantauan Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian tercat­at ada laporan AI pada unggas di 8 desa pada 8 kabupaten/kota di 7 provinsi. Data tersebut diperoleh berdasarkan laporan SMS Gateway dari tim Participatory Disease Surveillance and Response (PDSR).   
Pemerintah pusat dan daerah telah melakukan beberapa tindakan pencegahan sebag­ai antisipasi meluasnya wabah flu burung. Saat ini, langkah antisipasi yang saat ini dilakukan umumnya dilakukan terhadap unggas sebagai media penyebar virus flu burung. Juga dalam bentuk sosialisasi kepada masyarakat agar tidak melakukan kontak fisik terhadap unggas-unggas, baik yang sakit maupun yang mati mendadak.
Saat ini, penularan masih terjadi dari unggas ke manusia. Penularan ini tetap akan terjadi selama kasus flu burung masih ada pada unggas. Sementara, penularan dari manusia ke manusia mungkin juga terjadi, meski sangat sulit.

Ingin lebih lengkap, silakan baca disini

4.05.2006

Pasca-terapi Laser, Mutlak Pakai Pelembab

Pasien estetika datang umumnya bertujuan untuk meremajakan kulit, memperbaiki skar, mengubah warna kulit, dan dengan alasan kondisi pa­tolo­gik kulit lainnya,” demi­kian paparan Dr. Peter Hasan H. W. dalam Seminar and Workshop in Aesthetic Medicine yang diadakan Perhimpunan Dokter Estetika Indonesia. Dr. Peter me­lanjutkan, untuk memenuhi kebutuhan pasien di atas, saat ini sering digunakan terapi laser oleh dokter sebagai salah satu modalitas terapi.
Saat ini, teknologi laser semakin berkembang dan banyak dimanfaatkan oleh dunia ke­dokter­an, bukan hanya yang berkaitan dengan dermatologi atau estetika. Tujuan terapi ini adalah menghancurkan jaringan patologis yang tidak diinginkan atau menjadi target dengan te­tap melindungi jaringan normal di sekitarnya.  
Dalam paparannya di acara yang diselenggarakan pada 16-18 Desember 2011, Dr. Peter menyebutkan beberapa teknik yang dapat digunakan dalam terapi laser. Di antaranya laser ablation/vaporization, laser skin resurfacing, zebra laser photo­ter­molysis/coagulation, fractional phototermolysis, non-ablative laser skin rejuvenation, dan teknik lainnya.
Tiap produsen laser ber­usah­a keras untuk senantiasa menemukan peralatan penghasil laser yang paling ideal, mi­sal­n­ya short to ultra short pulse laser, Q-switch laser, beyond TRT (thermal relaxation time), dan sebagainya. Saat ini pun terdapat laser fraksional dengan berbagai panjang gelombang untuk mencapai termolisis selekti­f yang dilengkapi alat bantu tambahan demi mencapai hasil akhir yang diinginkan.

Ingin lebih lengkap silakan baca disini

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
RSS Feed Follow Us on Twitter! Join With Us on Facebook!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Web Hosting Coupons